Kamikaze : Serangan bunuh diri Jepang yang melegenda

Diposting oleh Rubiyana pada 18:10, 13-Nov-12



Kamikaze adalah strategi spesial berupa serangan bunuh diri yang digunakan oleh pihak Jepang selama Perang Dunia ke 2. Strategi kamikaze diciptakan setelah Jepang kehabisan pilihan dan kesempatan untuk memukul balik kekuatan sekutu di perang Pasifik.

Strategi kamikaze didefinisikan sebagai strategi menggunakan pesawat atau kapal yang dipersenjatai khusus untuk kemudian dihantamkan ke sasaran. Umumnya dilakukan dengan terbang tinggi untuk menghindari sergapan pesawat tempur musuh lalu menukik setelah menemui sasaran atau terbang rendah untuk menghindari deteksi radar, lalu kemudian perlahan terbang meninggi dan menukik ketika menemui sasaran.

Strategi kamikaze udara umumnya menggunakan pesawat tempur/pembom yang dipasangi bom kelas medium ataupun berat untuk ditabrakkan ke sasaran.

Orang yang pertama kali mencetuskan ide strategi kamikaze adalah Laksamana Takijiro Ohnishi, komandan armada udara l di Filipina. Dia mengusulkan dibentuknya 'unit penyerang spesial' yang beranggotakan pilot-pilot yang siap menabrakkan diri ke sasaran. Dia berpendapat dengan menabrakkan sebuah zero (pesawat tempur Jepang) yang membawa bom 250 kg ke kapal induk akan cukup untuk melumpuhkannya selama berminggu-minggu.
Akhirnya pada tanggal 25 Oktober 1944, serangan kamikaze pertama yang sistematis dimulai dengan 5 Mitsubishi zero terbang ke teluk Leyte. 5 pesawat itu dipasangi bom seberat 250 kg yang dipimpin oleh Letnan Seki dan dikawal oleh zero yang dipiloti ace ternama Hiroyoshi Nishizawa. Kelima zero itu mengincar armada kapal induk US NAVY yang sedang berada di teluk Leyte dalam rangka mendukung pendaratan McArthur.


Dalam serangan pertama ini, kapal induk kawal USS St Lo tenggelam dihantam telak salah satu zero yang dipimpin Letnan Seki. Esoknya escort carrier USS Suwannee,USS Sangamoo,USS White Plains,USS Kalinin bay and Kitkun bay dihantam kamikaze dengan kerusakan parah. Hanya dalam 2 hari, 40 kapal perang Amerika sukses dihantam kamikaze (5 tenggelam,23 rusak parah,12 rusak ringan)

Menyusul kesuksesan di teluk Leyte, strategi serangan kamikaze langsung ditingkatkan secara signifikan. Bulan berikutnya muncul 2000 pesawat kamikaze.

Untuk menangkis strategi kamikaze Jepang, pihak sekutu mengembangkan strategi 'big blue blanket' . Kapal induk dan battleship dilindungi kapal perusak hingga radius 80 km dari pusat armada untuk menyediakan deteksi radar lebih dini. Pesawat tempur US NAVY maupun USMC dan Royal NAVY melakukan combat air patrol non stop hingga titik radius terjauh dari armada tempur. Pesawat tempur sekutu juga rutin menyerang landasan udara dan pesawat Jepang di darat untuk mencegah penerbangan armada kamikaze. Selain itu kapal perang sekutu juga mengoptimalkan penggunaan AA gun kaliber kecil maupun besar dalam menangkis serangan kamikaze langsung.

Pada saat Jepang menjadi sasaran pemboman masif dari armada B-29 Super fortress, Jepang menyiapkan unit kamikaze khusus 'shinten' yang diperkuat pesawat tempur AD Nakajima Ki-44 Shoki yang bertugas menghadang B-29 dengan cara menabrakkan diri ke pesawat pembom tersebut. Namun strategi ini dinilai tidak efektif karena sulit untuk melawan B-29.

Saat pasukan sekutu semakin dekat ke Jepang, pihak Jepang menciptakan Nakajima Ki-115 Tsurugi, pesawat khusus kamikaze. Pesawat ini terbuat dari kayu, menggunakan mesin stok surplus yang masih ada dan hanya dibekali bom untuk keperluan kamikaze.

Awalnya Ki-115 akan digunakan untuk keperluan kamikaze dalam menghadapi serbuan sekutu ke Jepang yang dikenal dengan 'operation downfall'. Pada akhirnya operasi militer tersebut batal dilakukan karena Jepang keburu menyerah, dan Ki-115 pun tidak pernah digunakan.

Selama perang tercatat total lebih dari 50 kapal perang sekutu tenggelam akibat serangan kamikaze, 290 lainnya rusak.

Menurut US Military, serangan kamikaze Jepang selama perang telah membunuh 4900 personel militer dan melukai 4800 lainnya.

Sedikit cerita pada tahun 1944, tersiar kabar kalau armada udara Jepang di Pasifik sudah habis, tetapi anehnya masih ada ribuan serangan kamikaze. Ternyata meskipun armada udara Jepang di Pasifik sudah habis, di Jepang masih bersiaga lebih dari 10000 pesawat tempur. Lalu darimana pilot-pilotnya? Sedangkan Jepang hanya menyisakan sedikit pilot karena banyak yang tewas.
Pihak Jepang merekrut ribuan sukarelawan yang umumnya masih remaja 16-21 tahun untuk dididik menjadi pilot kamikaze. Dengan tradisi 'bushido' yang mendarah daging, mereka tidak takut mengorbankan nyawanya demi kaisar dan negaranya. Prinsip "loyalitas dan berjuang hingga mati" benar tertanam di hati setiap orang Jepang saat itu. Jika pilot kamikaze berhasil menjalan tugasnya, namanya akan dipatri di kuil Yasukuni, kuil suci yang rutin dikunjungi kaisar Jepang. Mereka menganggap adalah suatu kehormatan besar jika kaisar datang ke kuil, melihat nama mereka dan mendoakan kebaikan bagi mereka.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

1 tanggapan untuk "Kamikaze : Serangan bunuh diri Jepang yang melegenda"

no name pada 10:32, 24-Jul-13

serangan yang mengerikan.
apa berhasil memenangkan peperangan?
kasihan keluarga yang ditinggalkan sad

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar